Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Maret 2014

ASEAN Community 2015
ASEAN Community 2015

Komunitas ASEAN 2015 - Apa itu "ASEAN Community 2015"? atau dalam bahasa Indonesia disebut "Komunitas ASEAN 2015". Mungkin istilah ASEAN Community 2015 atau Komunitas ASEAN 2015 masih asing bagi kita. Atau anda malah baru dengar sekarang? jujur saja penulis juga baru dan masih asing dengan istilah ini. Pertama kali dengar istilah ini saat saya mengikuti acara ASEAN Blogger Festival Indonesia di Solo, Jawa Tengah tanggal 9 s/d 12 Mei 2013 kemarin. Saya sendiri juga Ngeh! kok baru sekarang saya baru mendengar tentang istilah tersebut. Lalu apa pentingnya Komunitas ASEAN 2013 ini bagi kita semua? Maka dari itu luangkan waktu sejenak untuk menyelesaikan membaca tulisan ini sampai selesai. Paling tidak anda mengerti tentang apa itu Komunitas ASEAN 2015.

Anda bisa cari di google dengan kata kunci "ASEAN Community 2015" atau "Komunitas ASEAN 2015" pasti banyak mendapatkan informasi tersebut. Banyak yang membahas tentang hal tersebut. Namun bagi orang awam seperti saya ini yang tidak berpendidikan sekolah tinggi pasti akan bingung dengan istilah-istilah dan bahasa tulisan yang sukar dimengerti "padahal bahasa indonesia juga".

Sebenarnya ASEAN Community baru akan terbentuk nanti tahun 2020 tapi dari hasil KTT ke-12 ASEAN, disepakati pembentukan Komunitas ASEAN dari tahun 2020 dipercepat menjadi tahun 2015.

Dan disini saya akan menjelaskan apa itu ASEAN Community 2015, pengertian Komunitas ASEAN 2015 dengan bahasa ringan dan santai yang mudah-mudahan gampang di pahami menurut pemahaman saya.

Simak Video Tentang ASEAN Community 2015


Apa itu Komunitas ASEAN 2015? mungkin dulu waktu SD kita pernah mendapatkan pelajaran tentang ASEAN atau istilahnya perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara. Lalu apa hubungannya dengan Komunitas Asean 2015?

Jadi begini,.... Nanti pada tahun 2015 akan dibentuk yang namanya "ASEAN Community" loh bukannya ASEAN telah dibentuk dan berdiri sejak tahun 1967?

Benar sekali namun saat ini kerjasama antar negara ASEAN masih terbatas sekali. Nah dengan terbentuknya ASEAN Community 2015 ini maka hubungan kerjasama antar negara anggota ASEAN akan lebih luas.

Kalau di Eropa istilah ASEAN Community 2015 ini seperti UNI Eropa lah,... tahu kan UNI Eropa? nah ya seperti itu, namun ini di kawasan Asia Tenggara. Jadi nanti pada tahun 2015 itu istilahnya organisasi ASEAN akan ber "integrasi" menjadi sebuah organisasi kawasan yang lebih solid dan maju, membangun kebersamaan untuk satu tujuan (satu visi, satu identitas, satu komunitas), mendorong terciptanya kekompakan, kesamaan visi satu tujuan, kesejahteraan bersama, dan saling peduli diantara Negara-Negara di Kawasan Asia Tenggara.

Nah sedangkan dasar terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 sendiri ditopang oleh tiga pilar utama yaitu:

1. Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN
2. Komunitas Ekonomi ASEAN
3. Komunitas Sosial dan Budaya ASEAN

***

ASEAN Political and Security Community
ASEAN Political and Security Community

ASEAN Political and Security Community - Tujuan dibentuknya "Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN" ini bertujuan untuk mendorong dan mempercepat terbentuknya kerjasama dalam bidang politik dan keamanan di kawasan Asia Tenggara dan menciptakan kedamaian dan stabilitas keamanan di kawasan negara ASEAN.

Jadi dengan terbentuknya Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN ini diharapkan bisa mengatasi segala permasalahan yang menyangkut masalah politik dan keamanan di negara ASEAN. Kita bisa ambil contoh kasus perselisihan tapal batas antara Indonesia dengan Malaysia misalnya blok ambalat yang diperselisihkan dulu. Dengan adanya Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN ini maka diharapkan akan bisa menjawab permasalahan yang ada.

Keamanan laut misalnya, selat Malaka merupakan jalur perdagangan laut internasional yang sangat rawan sekali adanya kejahatan seperti pembajakan. Nah dengan dibentuknya Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN ini pastinya akan bisa menjawab tantangan tersebut.

Tidak hanya itu saja, ancaman teroris juga menjadi isu yang sangat serius di kawasan ASEAN jadi diharapkan dengan adanya Komunitas Politik dan Keamanan ASEAN ini akan meminimalisir segala ancaman teroris dan sebagainya.



ASEAN Economic Community
ASEAN Economic Community

ASEAN Economic Community - Tujuan dibentuknya "Komunitas Ekonomi ASEAN" tidak lain untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN. Membentuk kawasan ekonomi antar negara ASEAN yang kuat. Kita tahu sekarang ini di Amerika dan Eropa masih mengalami krisis ekonomi. Dan dengan terbentuknya Komunitas Ekonomi ASEAN diharapkan akan bisa mengatasi masalah-masalah dalam bidang perekonomian antar negara ASEAN. Jangan sampai kasus krisis ekonomi seperti di Indonesia pada tahun 1997 dulu terulang kembali.

Terciptanya kawasan pasar bebas ASEAN. Nah ini merupakan tantangan tersendiri bagi pelaku usaha di negara ASEAN. Persaingan produk dan jasa antar negara ASEAN akan di uji di sini. Bagi anda pelaku usaha dan jasa mulai sekarang tingkatkan kualitas produk anda. Buatlah produk anda agar dicintai konsumen anda. Dengan membuat produk yang berkualitas serta harga terjangkau pasti anda akan bisa bersaing dengan produk dari negara ASEAN lainnya.

Jika produk dan jasa anda memuaskan, maka tak heran produk anda akan terjual ke pasar yang lebih luas yaitu ke negara-negara ASEAN. Saya juga dengar dengan terbentuknya Komunitas Ekonomi ASEAN ini maka warga negara yang bekerja di negara lain (ASEAN) maka tidak menggunakan paspor maupun visa kerja. Warga negara Vietnam misalnya, juga bisa melamar kerja di Indomaret dengan syarat yang sama seperti warga negara Indonesia.

Download Komunitas Ekonomi ASEAN Blueprint

ASEAN Socio and Cultural
ASEAN Socio and Cultural
ASEAN Socio and Cultural - Tujuan dibentuknya "Komunitas Sosial dan Budaya ASEAN" untuk memajukan dan mensejahterakan antar negara ASEAN dalam bidang sosial, kebudayaan, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesehatan, dan masalah seputar sosial budaya.

Selain itu Komunitas Sosial dan Budaya ASEAN ini juga akan menciptakan masyarakat yang beradab, saling menjaga toleransi antar negara ASEAN, saling menghormati, menciptakan rasa persodaraan yang lebih kuat serta menjunjung tinggi rasa kemanusiaan atar negara ASEAN.

Jadi siapapun kita entah orang Indonesia, entah orang Malaysia, Vietnam, Philipina, dan lainnya "Kita Adalah Sodara!, kita adalah warga ASEAN"

Jadi dengan terbentuknya Komunitas Sosial dan Budaya ASEAN diharapkan akan menjawab permasalahan yang ada. Misalnya kasus klaim kebudayaan suatu bangsa antar negara ASEAN, hal tersebut akan diselesaikan dengan Komunitas Sosial dan Budaya ASEAN.

Selain itu nantinya semua warga ASEAN akan memiliki tambahan satu kartu identitas yaitu ID ASEAN semacam KTP ASEAN gitu lah, keren kan!

Ingat dengan terbentuknya Komunitas Sosial dan Budaya ASEAN ini akan mengingatkan kita tentang "Jaman Majapahit" kenapa begitu? ingat jaman dahulu "Kerajaan Majapahit" yang cukup terkenal itu wilayahnya adalah Asia Tenggara (ASEAN) jadi secara sadar atau tidak sadar sesama warga negara ASEAN itu sebenarnya bersodara sejak dahulu.

Jadi dengan terbentuknya Komunitas Sosial dan Budaya ASEAN nantinya diharapkan sesama warga ASEAN bisa saling menjaga tali persodaraan dan menjunjung tinggi rasa sosial kemanusiaan atar warga ASEAN. Jadi sesama warga ASEAN itu tidak boleh saling hina menghina seperti selama ini antara Indonesia dan Malaysia yang terkadang timbul benturan-benturan.

Jadi mulai sekarang STOP..! saling hina antar warga ASEAN. Kita adalah sodara, satu identitas yaitu warga ASEAN!


***

Itulah sedikit penjelasan singkat tentang gambaran apa itu pengertian dari ASEAN Community 2015 atau Komunitas ASEAN 2015. Dengan demikian kita khususnya warga negara Indonesia siap tidak siap kita harus siap menyambut yang namanya "Integrasi ASEAN" di tahun 2015 nanti. Sekarang tahun 2013 bukan saatnya untuk bersantai. Tahun 2015 cuma tinggal menghitung hari jadi siapkan segalanya.

Jangan lupa kasih tahu kepada keluarga anda, tetangga anda, warga kampung anda, dan semuanya tentang apa itu "Komunitas ASEAN" tersebut. Sehingga dengan demikian kita semua akan siap menghadapi ASEAN Community 2015 nanti.

Bagi anda seorang blogger, anda juga bisa turut serta mensukseskan dan mensosialisasikan tentang ASEAN Community 2015 ini dengan tulisan-tulisan seputar Komunitas ASEAN 2015. Sehingga akan banyak informasi seputar Komunitas ASEAN ini. Dan anda juga bisa bergabung di komunitas "ASEAN Blogger Community" untuk mengawal terbentuknya ASEAN Community 2015.

Rabu, 20 November 2013

Sebagai tenaga profesional,  semestinya  guru menjalankan tugas berdasakan pada ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya sendiri. Apalagi guru sudah diakui sebagai tenaga pofesional.  Sebagaimana seorang dokter, maka tugas guru dibimbing oleh kemampuan dirinya sendiri, dan bukan atas petunjuk orang lain di luar dirinya. Seorang dokter sebagai seorang profesional dalam menjalankan profesinya, baik dalam memerikna pasien maupun  memberikan obat tidak perlu petunjuk orang lain. Obat apa saja yang diberikan olehnya  kepada para pasien yang diperiksa adalah haknya dan berdasar  profesi  yang bersangkutan.

Bagi seorang dokter dalam menjalankan profesinya bahwa  yang terpenting adalah pasiennya menjadi sehat, dan mereka  bertanggung jawab atas profesi yang diembannya  itu. Semestinya seorang guru profesional juga seperti  dokter itu. Guru seharusnya diberi peluang untuk menentukan bahan pelajaran, cara mengajar, alat peraga yang digunakan untuk mengajar, dan bahkan juga tatkala melakukan evaluasi yang  dijalankan. Tugas profesional guru adalah di antaranya menjadikan para siswanya menguasai mata pelajaran yang diajarkan. Guru juga seharusnya mengetahui apa saja yang diperlukan oleh siswanya, baik sebagai individu, warga negara, dan bagian dari umat beragama.

Peran ideal guru tersebut selama ini belum terwujud. Guru hanya bertugas untuk menyampaikan bahan pelajaran di hadapan siswanya. Bahan pelajaran itu telah ditentukan dan bahkan termasuk buku teks dan cara mengajarkannya. Guru tidak boleh mengajarkan sembarangan sesuai dengan ilmu yang dimilikinya.  Keberhasilan guru diukur dari seberapa banyak target yang ditetapkan  bisa  dicapai. Di dalam kelas,  guru harus menyampaikan bahan pelajaran yang telah ditentukan. Demikian pula murid harus memahami dan menghafal sebagaimana petunjuk yang ada. Hal seperti itu menjadikan kehidupan di sekolah bagaikan mesin, semua serba diatur. Dengan demikian, guru tidak sekedar sebagai tukang, melainkan juga sebagai skrup nesin persekolahan itu.

Gambaran tersebut tentu sangat kontradiktif dengan peran sekolah yang seharusnya menjadi pusat pembudayaan. Mengembangkan nalar, intelektual, dan juga kecerdasan hati semestinya tidak dilakukan dengan cara-cara kaku seperti  itu. Mengisi pengetahuan  para peserta didik seharusnya tidak dipandang sama dengan mengisi gelas atau botol dengan air. Manusia sangat berbeda dengan botol atau gelas. Boleh saja  otak manusia diisi dengan informasi atau ilmu pengetahuan, tetapi jangan disamakan dengan gelas. Gelas yang utuh atau tidak bocor, setelah diisi bisa dilihat, apakah sudah penuh atau belum. Isi otak manusia tidak bisa dilihat, kecuali dengan cara dan ukuran-ukuran yang bersifat subyektif.        

Menghadapi kharakter manusia seperti itu, para guru mestinya diberi otoritas penuh. Mereka dipersilahkan untuk mengajar sesuai dengan kemampuannya. Guru profesional mestinya sudah mengerti apa yang dibutuhkan oleh muridnya. Hal itu persis seperti dokter, mereka tahu kebutuhan pasiennya. Sebagaimana dokter, guru semestinya juga diberi kebebasan untuk memilih bahan atau apa yang akan diajarkan. Kalau pun harus diberi pedoman, maka pedoman itu seharusnya  berupa garis besar, berupa target, atau standar.  Misalnya,   lulusan  SMA dalam pelajaran Bahasa Inggris, maka mereka harus bisa bercakap-cakap ringan dengan bahasa asing itu antar temannya.  Pelajaran matematika, harus  menjadikan siswa mampu  menyelesaikan soal-soal pada tingkat tertentu. Selain itu, semua hal terkait dengan pengajaran diserahkan kepada guru sebagai tenaga profesional.

Manakala guru harus dituntun-tuntun sebagaimana yang terjadi sekarang ini, maka apa bedanya guru dengan  tukang. Padahal guru bukan tukang. Guru adalah tenaga profesional. Memang diperlukan keseragaman di antara berbagai sekolah yang setingkat. Akan tetapi, apakah keseragaman itu benar-benar bisa diwujudkan, tatkala seorang anak jelas berbeda dibanding botol dan gelas.  Selain itu, apa gunanya membuat target  harus seragam, manakala pikiran, jiwa, hati, dan lain sebagainya  itu,  tidak akan mungkin diseragamkan. Apalagi, manusia adalah makhluk unik. Mengingkari  itu semua akan  sama artinya dengan  mengabaikan kepentingan peserta didik yang seharusnya ditumbuh-kembangkan  secara utuh dan menyeluruh. Wallahu a’lam. 

Kutipan dari Prof. Dr. KH Imam Suprayogo 

Selasa, 19 November 2013

             Semua orang pasti berfikir sebenarnya apa yang terjadi terhadap bangsa ini. Sehingga bangsa Indonesia tak bangga dengan statusnya sendiri. Segudang masalah menimpa bangsa ini : terorisme yang merajalela, hukum yang tak jelas, kriminalitas dimana mana, premanisme, kemiskinan yang makin pesat, konflik yang tak kunjung selesai, pornografi yang mengakar dan korupsi yang tak pandang bulu.
Pertanyaannya kenapa semua itu bisa terjadi? Bukankah kita sudah menyelenggarakan pendidikan moral dan pendidikan karakter? Lalu, bagaimana untuk menjelaskan tindakan-tindakan di atas yang perlu dilakukan oleh orang-orang terdidik, dari institusi-institusi dan lembaga-lembaga terhormat di negeri ini?
Faktor yang paling mendasar tentu saja adalah kegagalan system pendidikan kita dalam mencetak pemimpin yang jujur dan bawahan yang patuh. Setidaknya, kita bisa melihat adanya kesalahan sistem dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga ruh dari pendidikan itu tidak mengena pada peserta didik. Inilah yang kemudian memicu krisis multidimensi di negeri ini sebab krisis besar yang melanda bangsa ini sesungguhnya bermuara pada rendahnya nilai-nilai moral.
Ada yang menarik mengenai problem pendidikan di negeri ini. Bagaimana mungki soal ujian nasional yang akan didistribusikan ke daerah oleh pusat memerlukan pengawalan ketat dari kepolisian. Sebegitu parahkah moral bangsa ini sehingga di lembaga pendidikan saja sepertinya nilai kejujuransedemikian jarang. Bagaimana mungkin pemberantasan korupsidapat dilakukan, sedang institusi yang menjadi sumber kejujuran dan budi pekerti demikian rapuh. Ini belum persolana lain seperti tingginya kriminalitas, pergaulan bebas dikalangan remaja dan masih banyak persoalan hukum yang lainnya. Lantas, siapakah yang sepatutnya diletakan dalam posisibersalah dalam persoalan diatas?
Menjawab pertanyaan ini tentunya sangat sulit dan setiap pihak yang dituduh dipastikan akan membela diridengan menyodorkan beberapa pembelaan. Menyangkut krisis moral yang melanda negeri ini stidaknya kita dapat melihat adanya factor utama yang kemudian diikutifaktor dan variable yang semuanya butuh dikoreksidan memerlukan pembenahan. Factor utamanya adalah kegagalan pada system pendidikan kita dalam membentuk manusia cerdas, beriman, bertaqwa, serta berbudi pkerti luhur dan beraklhak mul;ia, sesuai yang telah diamanatkan. Kemudian, factor ini diikuti oleh factor pemicuberupa lngkungan yang tidak mengajarkan nilai – nilai moral serta minimnya penyaringan informasi dan budaya yang masuk ke Indonesia.
Dengan demikian, kita temukan sebuah jawaban mengenahi siapa yang harus bertanggung jawab atas merosotnya moral bangsa ini. Yang paling bertanggung jawab  adalah lembaga pendidikan, bukan hanya system yang dijalankan tetapi semua elemen yang bergerak di dunia pendidikan. Sampai saat ini upaya untuk membentuk budi pekerti yang luhurdi sekolah – sekolah bukannya tidak pernah dilakukan. Akan tetapi, pendidikan moral dan budi pekerti baru bersifat teori dan pengtahuan semata, sebagaimana tertuang dalam pelajaran Pkn dan agama. Belum masuk dalam tataran praktik sehingga pelajaran tersebut tidak betul – betul melekat dalam karakter siswa. Terlebih, standar kelulusan dalam pendidikan moral hanya diukur bagaimana anak dapat menghafal, menganalisis serta mampu menjawab soal ujian, sedangkan watak dan perilaku anak tidak menandai sebagaimana keberhasilan proses pembelajaran.
System seperti ini berdampak pada perilaku anak sehingga terjadi kesenjangan antara pengetahuan moral dengan perilaku mereka. Pendidikan moral belum menyentuh pada karakter mereka sehingga tidak membentuk pola piker dan perilaku mereka menjdi lebih bermoral. Sebab, seseorang dapat disebut sebagai orang yang berkarakter bik apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral, baik dalam ajaran agama ataupun norma masyarakat.
Kemudian lemahnya proses pendidikan moral ini diperparah oleh lingkungan sekitar yang sepertinya tidak mendukung mereka untuk menjadi orang baik. Penayangan sinetronyang tidak mendidik, penyebaran video porno di beberapa situs internet yang tak terkontrol, hingga kurangnya pengawasan orangtua terhadap anak. Eksploitasi besar – besaran oleh media dengan pemberitaan pejabat korupsi, artis terlibat narkoba, kejahatan seksual dan pejabat yang mempertotonkan konflik membuat anak – anak kehilangan figure yang semestinya dapat mereka teladani. Akibatnya, masyarakat mulai mengabaikan nilai – nilai norma dan agama, sehingga memicu pertumbuhan krisis moral lebih pesat.
Parahnya, pengaruh teknologi demikian mencengkram seperti handphone yang memiliki fitur internet atau kamera, hingga membuat anak – anak mudah mengakses gambar porno atau kekerasan. Terlebih dengan menjamurnya warnet – warnet yang tak membatasi akses untuk anak – anak. Kemudian, banyak orangtua yang tak mau tahu urusan anaknya. Mereka memberikan keleluasaan penuh pada anak – anaknya untuk memegang HP. Padahal seberapa pentingkah penggunaan HP oleh anak di usia sekolah?
Justru, dapat membuat anak tumbuh dengan kebebasannya sehingga mempergunakan HP di luar norma dengan menyimpan video porno dan mesum lainnya. Rata – rata kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh anak usia sekolah karena ingin meniru adegan porno yang disimpan diponsel mereka. Terkadang mereka merekam video mesum yang mereka lakukan sehingga membuat heboh dimedia massa. Terlebih lagi, tingkat kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya mulai menurun. Mereka seperti tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh anak anak disekitarnya, karena mungkin sibuk dengan urusan masing – masing atau takut pada pembelaan orang tua saat sang anak ditegur.
Inilah yang kemudian mengakibatkan hamper seluruh sendi kehidupan bermasyarakat mengalami penyimpangan karena terkontaminasi oleh cara – cara hidup yang tidak benar di masyarakat yang telah menjadikan penyimpangan sebagai kebiasaan, bukan sebagai kesalahan. Akhirnya seorang anak lepas kendali sehingga degradasi moral dalam wujud tindakan asusuila dianggap lumrah. Tradisi maksiat jadi kebanggaan dan kenakalan  remaja dianggap biasa. Mengenahi tindakan – tindakan penyimpangan masyarakat kadang ber apologi “ sudah zamannya “
Dengan demikian, penyelesaian krisis moral ini tidak bisa dilakukan oleh lembaga sekolah saja, tetapi memerlukan gerakan banyak pihak, pengelola lembaga pendidikan, pemerintah, agamawan, orang tua dan masyarakat. Semuanya harus bergerak dengan gerakan yang dapat melahirkan persepsi bahwa nilai moral lebih tinggi dari sekedar pengetahuan semata. Menanamkan persepsi seperti ini tentunya harus dimulai dari bangku sekolah yang kemudian diperkuat oleh kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu, guru dituntut bukan hanya memiliki kompetensi, skill yang tinggi serta kemampuan dan penguasaan terhadap materi ajar, tetapi juga memiliki keunggulan lain dalam bidang penanaman moralitas dan nilai nilai etika. Dalam pelajaran matematika misalnya, bukan hanya sekedar menitikberatkan pada objektifitas angka dalam penjumlahan, tetapi juga diajarkan bagaimana karakter mereka menjadi benar dengan nilai kejujuran. Hingga seorang anak tidak hanya tumbuh dengan pengetahuan yang cerdas, tetapi juga tidak mudah mempermainkan angka yang berujung pada korupsi dan penipuan.
Kemudian pembenihan dibangku sekolah ini disertai oleh dukungan masyarakat, sesuai dengan tugas dan fungsi masing – masing. Pemuka agama yang bertugas memberikan bimbingan kepada masyarakat tentang moral dan etika, orang tua mengawasi perilaku anak saat di rumah, dan pemerintah mengeluarkan regulasi yang mengatur perilaku masyarakat yang brpihak pada adat dan tata moral bangsa. Mislanya, dengan membatasi pemakaian HP untuk anak usia dini, semisal sampai tingkat SMA, menyeleksi tayangan televise yang tidak mendidik. Insan pers, khussunya televise, bertugas menyajikan tayangan uang menddidik, tidak sekedar tontonan tetpai sekaligus tuntunan. Bagaimanapun persoalan budaya dan moral adalah segalanya sehingga tidak bisa dikaitkan dengan persoalan bisnis semata. Cerita – cerita yang berisikan pergaulan bebas, tawuran antar geng, kenakalan saat belajar disekolah, pergaulan bebas dan perselingkuhan, perilaku tidak sopan pada guru dan orang tua, budaya kekerasan dan aniaya, menonjolkan sifat iri dan dengki serta perilaku yang licik adalah tema – tema yang seharusnya tidak ditayangkan karena dapat membius dan menggeser nilai – nilai budaya dan moral banmgsa. Upaya guru di sekolah dalam membentuk karakter murid akan runtuh seketika saat anak menontonnya.
Artinya, tugas moralitas bangsa ini memerlukan kerjasama anatar semua elemen elemen bangsa. Tanpa adanya kerja sama, pendiddikan moral dan etika yang diberikan disekolah akan sulit berhasil. Bagaimana mungkin sebuah bangunan moral berdiri megah dan indah saat orang – orang yang peduli berusaha memperbaikinya sementara yang lain terus membongkarnya!?



Sekelumit Kecil dari Kehidupan
“Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya salat dan banyaknya puasa, tapi karena sesuatu yang bersemayam di hatinya”
(HR at-Tirmidzi di an-Nawadir dan al-Ghazali di Ihya` Ulumuddin)

Indonesia adalah bangsa yang besar , namun kata orang masih dalam tahap perkembangan. Karena itulah mengurusi Indonesia, dengan segenap komplektifitas dan keruwetannya bukanlah perkara mudah. Seorang teman sempat bilang “di Indonesia ini bukan berarti tidak ada pemimpin yang bagus. Hanya saja mengurusi Indonesia yang sedemikian rupa adalah kesulitan yang luar biasa.
Ya, Indonesia, sebagai Negara – bangsa yang besar, tentu juga menyimpan keruwetan – keruwetan besar. Seorang teman di twitter mengatakan, justru karena itulah Indonesia jadi unik dan asyik. Negara kecil dan makmur seperti Brunei Darussalam, betapapun  makmurnya, tampaknya hidup disana kurang asyik, karena kurang tantangan dan dialetika. Karena minim akan dialetikadan peristiwa, sampai – sampai kran kamar mandi raja yang macet pun ditampilkan di kepala berita.
Karena itulah mungkin taka da salahnya jika dibuat semacam seluruh hidup di Indonesia membuat anda tahu bahwa hidup itu belum selesai. Ada banyak masalah yang antre di hadapan kita untuk kita tangani secara tuntas, satu demi satu. Satu masalah selesai, datang masalah yang lain lagi, bahkan masalah yang satu belum selesai muncul lagi masalah yang lain.
Jika hari ini kita merenungkan  tentang Indonesia, tentu demikianlah keadaannya, para pendahulu kita juga memikirkan dan menjalani hal yang tidak jauh berbeda dengan kita di hari ini. Mereka menjalani kehidupan di bumi nusantara dengan perjuangan yang luar biasa. Jadilah Indonesia sebagai yanah perjuangan masyarakatnya yang tidak selesai – selesai, kemarin dan esok, dahulu dan kelak, meski model perjuangannya tentu berbeda – beda. Tapi bukanlah hidup itu sendiri adalah perjuangan?
Dalam perjalanan sejarahnya, dari waktu ke waktu , penduduk Indonesia berjuang hidup di negeri ini dengan porsi masing – masing. Pada zaman penjajahan, mereka berjibaku dengan para penjajah yang dating silih berganti. Perjuanagan yang panjang menyisakan keterbelakangan yang luar biasa dan luka yang terus terasa hingga kini.
Kita boleh saja berangan, andai Indonesia tidak direpokan dengan penjajah, mungkin negeri ini sudah sejajar dengan Singapura atau Jepang. Negara yang tidak pernah merasakan penjajahan. Tapi apa iya ceritanya akan begitu? Tentu saja jawabannya “ tidak selalu begitu” emas tidak akan terlahir sebagai emas jika tidak melalui proses yang luar biasa sulit. Hidup adalah sebuah proses. Disinilah pejiang bangsa terlibat dalam proses yang luar biasa panjang, hingga merekasamapai pada periode kemerdekaan. Tapi apakah tugas sudah selesai ? Belum!
Masyarakat Indonesia pasca kemerdekaan harus berjuang dengan diri mereka sendiri. Demi kepentingan bangsa, mereka harus gigih memerangi pihak – pihak yang berhasrat merampok Indonesiademi kepentingan pihak dan kelompoknya sendiri. Bahkan selanjutnya, masyarakat pejuan Indonesia melawan para pemimpin yang belakangan diketahui ingin memanfaatkan Indonesia untuk kepentingan segelintir kalangan, diri dan keluarga semata. Orde lama ditumbangkan, orde baru dijungkirkan.
Namun. Orde reformasi bukanlah batas akhir dari perjuangan kita. Periode baru ini justru tampak sebagai awal dari segalanya. Tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini tidak lebih ringan daripada tantangan yang dihadapi oleh para pendahulu mereka pada periode penjajahan, orde lama dan orde baru. Dengan jenis dan motif yang berbeda, sebetulnya kita tengah menjalankan tugas yang sama beratnya dengan para pejuang kemerdekaan dimasa lalu.
Jadi bangsa Indonesia dalam sejarah perjalannya hingga kini adalah pejuang kemerdekaan. Pada masa penjajahan mereka berjuang mengusir para penjajah. Pada masa Orde baru dan orde lama mereka berjuang melawan represi dan kesewenag – wenangan dan kezaliman. Adapun pada masa orde reformasi, seakan kita melawan segalanya. Apakah yang tidak sedang kita hadapi saat ini? Infiltrasi orang – orang asing dari luar, penguasa yang tidak becus, wakil rakyat yang korup, info – info yang menindas, kebijakan ekonomi yang mencekik, politik yang kotor, bencana yang tidak berkesudahan, kemiskinan dan pengangguran yang terus meningkat dan masih banyak lagi.
Akan tetapi bagaimanapun, tantangan seberat apapun akan teratasi jika kita semua berjuang dengan penuh keikhlasan. Kuncinya adalah konsistensi.